Begini Cara Memilih Pinjaman Online Yang Bukan Abal-Abal

Begini Cara Memilih Pinjaman Online Yang Bukan Abal-Abal

Penawaran pinjaman dana via online sedang marak. Namun tak sedikit masyarakat yang merasa dirugikan dengan layanan ini. Bahkan menurut YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesi), dalam 1 tahun terakhir, pengaduan masyarakat yang merasa dirugikan oleh layanan Pinjaman Online meningkat hingga 150% dibanding tahun sebelumnya. Bagaimana sebenarnya kondisi yang terjadi ? benarkah pinjaman online memang merugikan ? bagaimana menyikapinya ? 

Merebaknya layanan pinjaman online (dikenal juga dengan istilah Peer To Peer Lending / P2P Lending) adalah bagian dari perkembangan financial technology atau dikenal juga dengan istilah Fintech. Dalam 3 tahun terakhir, Fintech di Indonesia tumbuh dengan cukup agresif. Data dari Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan bahwa jumlah pengguna atau nasabah P2P Lending pada Desember 2017 adalah sebanyak 237.319 rekening. Sementara hingga Juni 2018 jumlahnya membengkak menjadi 949.168 rekening alias tumbuh lebih dari 300%. 

Begitu juga dengan jumlah dana yang tersalurkan. Pada Desember 2017 jumlahnya sebesar 2,1 Triliun. Angka ini naik 3 kali lipat pada Juni 2018 yaitu sebesar 6,7 Triliun Rupiah. Namun pertumbuhan ini tidak seagresif pertumbuhan perusahaan penyedia pinjaman online yang resmi terdaftar di OJK. Sampai Juli 2018, baru ada 63 Perusahaan Peer To Peer Lending yang terdaftar resmi, dengan jumlah penyedia dana (Lender) mencapai 92.963 rekening. 

Diluar data diatas, YLKI mencatat ada ratusan perusahaan P2P Lending yang tidak terdaftar resmi namun beroperasi. OJK menyebut perusahaan seperti ini adalah ilegal. Sayangnya, masyarakat banyak yang kurang tahu mengenai hal ini. Ditambah lagi, banyak juga masyarakat yang kurang memahami aturan teknis dan persyaratan yang diajukan oleh perusahaan penyedia pinjaman online. Akibatnya, masyarakat merasa tertipu dan dirugikan. 

Sejatinya, layanan pinjaman online sebagai bagian dari Fintech juga akan merugikan image Fintech itu sendiri jika permasalahan ini tidak diatasi dengan baik. Sebab fintech sendiri hadir bukan sekedar untuk menjadi "rentenir online" seperti yang sering dipersepsikan. 
Hadirnya fintech, khususnya di Indonesia, membantu siapa saja dalam mengakses produk finansial. Kemampuan fintech dalam menjangkau semua kalangan masyarakat dan memudahkan segala transaksi keuangan menjadi keuntungan tersendiri. 

Karena itu, masyarakat perlu terus diedukasi tentang bagaimana memanfaatkan Fintech dengan baik, dan juga agar lebih berhati-hati dalam memilih pinjaman online. OJK sendiri sudah memberi rambu-rambu pada masyarakat mengenai kiat-kiat memilih pinjaman online. Apa saja itu ? 

1. Pastikan perusahaan yang menawarkan pinjaman online telah terdaftar resmi di OJK. Hal ini sebagai perlindungan utama masyarakat karena perusahaan yang telah diberi izin resmi sudah pasti akan memenuhi ketentuan yang sudah diatur. 

2. Pastikan memilih pinjaman online yang menyajikan transparansi dalam skema yang ditawarkan, pembiayaan, dan ketentuan yang menyertai. Penting bagi seorang calon peminjam untuk mengetahui tentang besaran biaya, bunga, jatuh tempo, dan hal-hal yang mengatur mengenai penagihan dan pembayaran. 

3. Pastikan perusahaan penyedia layanan pinjaman online memberikan kemudahan dalam persyaratan pengajuan. Kemudahan syarat adalah daya tarik pinjaman online dibandingkan kredit konvensional. Salah satunya adalah kelengkapan dokumen. Karena banyak orang sulit mengajukan kredit ke bank akibat tidak bisa memenuhi persyaratan dokumen. 

4. Pastikan layanan pinjaman online yang dipilih adalah yang menawarkan fleksibilitas dalam angka pinjaman, bunga yang tidak memberatkan, serta opsi pelunasan dipercepat yang tidak dikenakan denda. Dengan ini, maka peminjam akan lebih nyaman dalam mengembalikan pinjamannya. 

5. Pastikan bahwa mekanisme pembayaran dan penagihan diketahui dengan baik oleh nasabah. Hal ini bertujuan untuk melindungi konsumen apabila terjadi hal yang tak diinginkan, seperti proses penagihan yang tidak sesuai ketentuan atau merugikan konsumen. 

Dengan memahami tujuan utama Fintech adalah untuk membantu masyarakat dalam mengakses transaksi finansial, maka hal-hal yang dianggap merugikan akan bisa diminimalisir. Diluar semua itu, masyarakat perlu sekali untuk menghindari penawaran yang terlalu menggiurkan dan tidak masuk akal. Sebab celah-celah seperti inilah yang dimanfaatkan oleh perusahaan abal abal dalam menjerat konsumen. 

Subscribe Newsletter

Dapatkan info terbaru mengenai Finansial Teknologi. Kami tidak melakukan spam dan email anda tidak akan diberikan kepada pihak ketiga.

Copyright © 2019 Fintektok - All Rights Reserved.