Cara Perhitungan Persediaan Akhir (Tanpa Stock Opname)

Cara Perhitungan Persediaan Akhir (Tanpa Stock Opname)

 

Ada dua metode cara mencatat persediaan yaitu metode perpetual dan metode periodik. Perhitungan persediaan akhir tidak ada masalah jika perusahaan itu menggunakan metode perpetual, karena saldo persediaan akhir dapat diketahui kapan saja yang kita mau. Yang jadi masalah jika perusahaan itu menggunakan metode periodik. Kita mengetahui tidak sedikit perusahaan kecil-menengah yang masih menerapkan sistem periodik, sehingga untuk menghitung persediaan akhir harus dilakukan stock opname.

Nahh... jika begitu, andaikan anda itu bekerja di salah satu perusahaan yang masih menggunakan metode periodik dan atasan anda meminta Laporan keuangan ke anda diakhir bulan ini (misal bulan september), padahal biasanya perusahaan anda melakukan stock opname diakhir tahun.
Terus begaimana reaksi anda mengenai hal itu? Apakah anda merasa bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan atau anda tetap tenang dan tahu strategi yang harus dilakukan atau bahkan kamu menolak penugasan dari atasanmu? Eitss... tidak usah bingung atau bahkan stres dengan hal itu. Ok, tetap tenang dan berpikiran jernih. Ada strategi cara menghitung saldo persediaan akhir tanpa harus melakukan stock opname terdahulu.

 

Nahhh bagaimana caranya? pasti anda mulai penasaran atau bahkan mulai menerka-nerka cara nya. Caranya cukup sederhana dan bisa anda pelajari dengan mudah. Ok, berikut penjelasannya:
 

Strategi Cara Perhitungan Saldo Persediaan Akhir Tanpa Stock Opname

Meliputi sebagi berikut:
 

1. Dengan melihat Kartu persediaan. Dengan melihat kartu persediaan kita langsung dapat mengetahui saldo akhir per item barang persediaan dan langsung bisa dijumlahkan. itu jika perusahaan mempunyai kartu persediaan, nahh jika perusahaan tidak mempunyai kartu persediaan bagaimana?, ok, tetap tenang dan tidak usah panik. ada cara lainnya kok untuk menghitung persediaan akhir tanpa stock opname. Mau tahu?, berikut penjelasannya. 
 

2. Dengan cara mengestimasi metode laba kotor atau Gross profit method.

Kita semua mengetahui bahwa rumus untuk menghitung:
Laba kotor = Penjualan bersih - HPP

HPP = Penjualan Bersih - Laba kotor

atau HPP = Persediaan awal + pembelian - persediaan akhir

Persediaan Akhir = Persediaan awal + pembelian - HPP

Masalahnya HPP tidak diketahui (karena menggunakan metode periodik).
Jika demikian kita dapat melakukan perhitungan estimasi laba kotor untuk menghitung persediaan akhir, dengan syarat tersedianya data sebagai berikut
Penjualan bersih, Persediaan Awal, pembelian persediaan,

Contoh kasus : Anda sebagai seorang akuntan di Perusahaan ABC. Atasan secara mendadak meminta Laporan keuangan sampai dengan  tgl 30 september. Secara kebetulan perusahaan tempat anda bekerja menggunakan sistem periodik dan stock opname bisanya dilakukan diakhir tahun tepatnya di tanggal 31 desember. Data yang tersedia hanya: Penjualan bersih dari 1 januari - 30 september sebesar 90.000, persediaan awal 35.000, dan pembelian persediaan dari tanggal 1 januari -30 september sebesar 40.000.

Dari data yang telah ada berapa jumlah saldo persediaan akhir 30 september?

Jawaban:
Ada dua langkah perhitungan yaitu menghitung estimasi HPP nya dulu, baru dilanjut menghitung estimasi saldo persediaan akhir. Karena ditempat anda bekerja tidak mempunyai kartu persediaan, maka anda memutuskan untuk mengestimasi jumlah persediaan akhir dengan cara menggunakan metode Laba kotor. Untuk mengestimasi laba kotor anda bertanya ke atasan berapa tarif laba kotor per item persediaan dan atasa anda mematok laba kotor untuk semua item persediaan sebesar 50%. untuk cara perhitungannya sebagai berikut:

Estimasi HPP = Penjualan bersih - Estimasi laba kotor
                     = 90.000 - (50% x 90.000)
                     = 90.000 - 45.000
                     = 45.000
Estimasi persediaan akhir = Persediaan awal + pembelian - estimasi HPP
                                          = 35.000 + 40.000 - 45.000
                                          = 30.000
jadi jumlah estimasi persediaan akhir 30.000 yang anda masukkan ke dalam laporan keuangan.


PERLU DIINGAT DAN DICATAT: bahwa cara tersebut hanya berupa estimasi dan masalah keakuratannya tidak 100% akurat. Cara diatas tidak diperbolehkan sama sekali dalam penyusunan laporan keuangan akhir tahun (laporan di akhir periode buku).

Bagaimanapun jumlah kondisi persediaan akhir bisa diketahui secara akurat hanya dengan melakukan pengecekan fisik persediaan (stok opname). Estimasi diatas bisanya hanya untuk keadaaan darurat.

 

Sumber : zulijaz 

Subscribe Newsletter

Dapatkan info terbaru mengenai Finansial Teknologi. Kami tidak melakukan spam dan email anda tidak akan diberikan kepada pihak ketiga.

Copyright © 2019 Fintekmedia - All Rights Reserved.