Kenapa UMKM Indonesia Kesulitan Mengakses Pinjaman Bank?

Kenapa UMKM Indonesia Kesulitan Mengakses Pinjaman Bank?

Kebanyakan pelaku usaha kecil di Indonesia memulai dan membiayai bisnisnya secara mandiri, dengan merogoh uang dari kantong mereka sendiri. Namun, saat tiba waktunya untuk mengembangkan bisnis mereka, seringkali mereka harus menghadapi masalah dengan pembiayaan. Sayangnya, bagi sebagian besar usaha kecil di Indonesia, pembiayaan bank masih menjadi sesuatu yang tak mudah didapatkan.

Indonesia memiliki sekitar 58 juta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), mencapai 99.9% dari total unit usaha yang tersebar di seluruh negara ini. Ini adalah usaha-usaha yang dimiliki dan dijalankan oleh para petani, nelayan, perempuan di pelosok daerah, tukang sayur di pasar tradisional dan semacamnya. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki akses ke pinjaman bank. Lebih dari 50 juta UMKM di Indonesia dinilai tidak bankable dan dari Rp 4.505 triliun kredit yang dikucurkan oleh bank umum di Indonesia tahun lalu, kurang dari 20 persen atau sekitar Rp 900 triliun saja yang ditujukan bagi UMKM.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa kebanyakan usaha kecil di Indonesia masih tidak dilirik oleh sektor perbankan. Hal ini menimbulkan pertanyaan kenapa sangat sulit bagi UMKM untuk mendapatkan pinjaman bank. Berikut ini beberapa alasan utamanya:

 

1. Prosedur pengajuan pinjaman bank seringkali memakan waktu, prosesnya berbelit-belit dan syaratnya tidak mudah dipenuhi

Saat mengajukan pinjaman bank, banyak pelaku usaha kecil yang merasa prosesnya merepotkan. Prosedur pengajuan pinjaman bank bisa memakan waktu mingguan bahkan bulanan dan memenuhi seluruh persyaratannya tidak selalu mudah. Umumnya, bank mensyaratkan surat-surat usaha atau dokumentasi legal yang tidak dimiliki oleh banyak pemilik usaha informal.

2. Tidak ada agunan

Untuk mengurangi resiko kredit, Bank biasanya meminta agunan dalam pengucuran kredit usaha kecil. Sayangnya, tidak banyak UMKM yang memiliki aset yang bisa dijadikan agunan untuk jumlah pinjaman yang mereka butuhkan.

3. Kurangnya informasi

Tidak banyak bank yang memiliki kantor cabang di pedesaan, jadi tidaklah mudah bagi bank untuk menjangkau usaha-usaha kecil di pelosok daerah dan menyebarkan informasi mengenai layanan kredit mereka. Akibatnya, pelaku usaha kecil banyak yang tidak mengetahui prosedur maupun persyaratan pengajuan pinjaman bank.

4. Tidak ada layanan kredit mikro

Seringkali pemilik usaha kecil membutuhkan sedikit saja uang untuk membuat bisnisnya tetap berjalan, dan mungkin sumber daya dan cashflow yang mereka miliki hanya cukup untuk membayar kembali pinjaman dalam jumlah kecil dan jangka waktu tertentu. Masalahnya, kebanyakan Bank tidak melayani permohonan pinjaman di bawah Rp 25 juta — untuk usaha skala rumah tangga, jumlah ini bisa terasa sangat besar.

Faktor-faktor tersebut di atas membuat pelaku UMKM enggan dan kesulitan mendapatkan pinjaman Bank untuk mengembangkan usaha mereka. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi usaha Indonesia dalam meningkatkan inklusi finansial. Untungnya, dalam beberapa tahun ini di Indonesia telah bermunculan platform-platform pinjaman peer-to-peer, menawarkan solusi inovatif untuk permasalahan pembiayaan UMKM. Dengan adanya pinjaman peer-to-peer ini, bisa memungkinkan bagi UMKM dan UKM untuk bisa meningkatkan pinjaman permodalan mereka untuk bisa meningkatkan skala produksi dan omzet mereka. 

Subscribe Newsletter

Dapatkan info terbaru mengenai Finansial Teknologi. Kami tidak melakukan spam dan email anda tidak akan diberikan kepada pihak ketiga.

Copyright © 2019 Fintekmedia - All Rights Reserved.