Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threat) Crowdfunding atau Urun Dana

Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threat) Crowdfunding atau Urun Dana

 

Peluang crowdfunding saat ini semakin meningkat sesuai dengan kemajuan zamannya. Meskipun demikian, diperlukan wawasan di sini karena crowdfunding adalah hal baru dan muncul dengan sangat cepat, mengeksplorasi elemen-elemen yang dapat dieksploitasi untuk meningkatkan pentingnya crowdfunding dan mempercepat perkembangannya.

Pertama-tama, pandangan yang baik, yaitu masyarakat kontemporer, perlu diambil. Dalam pengetahuan ekonomi, pembentukan informasi masyarakat harus diperhatikan dan diperhitungkan. Seiring perkembangan teknologi yang semakin maju dari waktu ke waktu, penggunaan internet muncul dan hal ini memicu popularitas berbagai jejaring sosial dan proyek berbasis crowdsourcing untuk terus maju. Jejaring sosial dan crowdsourcing dapat digunakan untuk kepentingan crowdfunding. Crowdfunding dapat menggunakan jejaring sosial untuk promosi. Blechter et al. (2011) menyatakan, bahwa jejaring sosial dapat berfungsi sebagai media dalam mempromosikan proyek kepada masing-masing, teman-teman mereka. Blechter et al. (2011) menunjukkan bahwa “investasi semakin cepat ketika wirausahawan semakin dekat ke jumlah yang diperlukan di mana orang luar berkontribusi sebagian besar dana dibandingkan dengan fase awal di mana teman-teman berkontribusi paling banyak“. Jadi, setelah anggota keluarga dan teman-teman berkontribusi pada tahap awal, mereka dapat merekomendasikan bisnis untuk teman-teman mereka melalui jejaring sosial dan berfungsi sebagai sumber yang dapat dipercaya. Memiliki rekomendasi seperti itu dan melihat bahwa sebagian besar dari jumlah tersebut sudah berhasil di-raised, orang luar lebih mungkin untuk berkontribusi.

Kemungkinan untuk melakukan pemasangan antara crowdfunding dengan crowdsourcing terlihat menjanjikan. Menurut Sigar (2012), crowdfunding dapat berfungsi sebagai alat bagi inovator untuk mempertajam model bisnis, artinya meminta masukan terhadap produk atau layanan mereka bahkan sebelum mereka ditawarkan kepada publik.

Blechter et al. (2011) mengatakan bahwa ide yang diposting online akan dievaluasi bersama investor dan setelah konsensus dicapai, baru dilakukan crowdfunding (term yang mirip adalah “co-creation”. Blechter et al. (2011) menyatakan, bahwa strategi seperti itu mungkin tidak cocok untuk proyek komersial karena masalah kepemilikan dari ide.

Efek positif crowdfunding diharapkan memiliki peluang dalam ekonomi. Crowdfunding dikatakan mampu menciptakan pekerjaan baru (Sigar, 2012) dan mengkatalisasi ekonomi.

Pemulihan ekonomi jangka panjang (Gobble, 2012), membantu perkembangan ekonomi (Kitchens & Torrence, 2012) dan inovasi (Shirky, 2012; Kitchens & Torrence, 2012). UU JOBS dirancang untuk meningkatkan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan akses ke pasar modal publik untuk perusahaan yang sedang tumbuh (Kitchens & Torrence, 2012).

Sacks dalam Shaking Crowdfunding (2012) mengatakan, bahwa

“Bahkan jika ada pengusaha dengan ide, tidak akan ada bisnis dan tidak ada pekerjaan kecuali ada modal.

Manfaat equity crowdfunding pada ekosistem inovasi juga signifikan. Menurut Shirky (2012)

Ini bukan efek sampingnya, ini benar-benar efek utama meningkatkan ekonomi startup: membuat lebih banyak orang mencoba lebih banyak ide, yang juga berarti lebih banyak kegagalan. Tapi itu juga berarti lebih banyak pengalaman, itu berarti lebih banyak kejutan, itu berarti biaya lebih rendah ”.

Kitchens & Torrence (2012) mengungkapkan ide yang sangat mirip yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi didorong oleh inovasi, inovasi didorong oleh eksperimen dan eksperimen digerakkan oleh crowdfunding. Juga, menurut Sigar (2012) usaha kecil memberi konsumen lebih banyak pilihan produk dan layanan. Dengan begitu banyak efek positif yang diharapkan terjadi.

Juga, equity crowdfunding dirancang sebagai peluang investasi untuk melakukan fundraising tidak diharapkan untuk bersaing dengan cara lain dalam melakukan fundraising atau berinvestasi. Misalnya kalau di Indonesia, menurut peraturan OJK jumlah dana maksimal yang bisa diperoleh melalui urun dana adalah Rp. 30 Miliar supaya tidak bertabrakan dengan metode fundraising melalui IPO (Initial Public Offering) papan startup di IDX.

Di satu sisi, Shirky (2012) mendasari gagasan, bahwa crowdfunding adalah metode yang cukup niche untuk melakukan fundraising dan menyatakan bahwa mungkin tidak akan ada tumpang tindih dengan metode lainnya. Pada saatnya nanti equity crowdfunding akan terbukti tidak bersaing dengan metode fundraising lainnya, dan akan menjadi peluang investasi baru bagi masyarakat yang tidak punya cukup uang untuk berinvestasi di saham bahkan crowdfunding lebih mungkin untuk bersaing dengan perjudian (Farrel).

Kelebihan Kekurangan Equity Crowdfunding Urun DanaVALUATION OF CROWDFUNDING: BENEFITS AND DRAWBACKS – Loreta Valanciene, Sima Jegeleviciute Kaunas University of Technology, Lithuania

Subscribe Newsletter

Dapatkan info terbaru mengenai Finansial Teknologi. Kami tidak melakukan spam dan email anda tidak akan diberikan kepada pihak ketiga.

Copyright © 2020 Fintekmedia - All Rights Reserved.