Pengertian Rasio Lancar (Current Ratio) dan Rumus Rasio Lancar

Pengertian Rasio Lancar (Current Ratio) dan Rumus Rasio Lancar

 

Rasio Lancar atau Current Ratio adalah rasio yang mengukur kinerja keuangan necara likuiditas perusahaan. Rasio Lancar ini menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban hutang jangka pendeknya pada 12 bulan ke depan. Calon kreditur umumnya menggunakan rasio ini untuk menentukan apakah akan melakukan pinjaman jangka pendek atau tidak kepada perusahaan yang bersangkutan. Rasio Lancar atau Current ratio ini juga menunjukan efisiensi siklus operasi perusahaan atau kemampuannya mengubah produk menjadi uang tunai. Rasio Lancar atau Current Ratio yang merupakan salah satu Analisis Rasio Likuiditas ini juga dikenal dengan rasio modal kerja (working capital ratio).
 

1. Rumus Rasio Lancar (Current Ratio)

Rasio Lancar dihitung dengan membagikan Aktiva Lancar (current assets) dengan Kewajiban atau Hutang Lancar (current liabilities). Berikut ini adalah rumus rasio lancar :

                 Rasio Lancar = Aktiva Lancar / Hutang Lancar

Sebagai informasi tambahan, yang dimaksud dengan aktiva lancar atau aset lancar adalah aset yang dapat dikonversikan menjadi uang tunai, sedangkan hutang lancar adalah hutang perusahaan yang harus dibayar tunai dalam waktu 12 bulan atau satu tahun atau dalam siklus operasional perusahaan.

 

Contoh Kasus Perhitungan Rasio Lancar

Perusahaan PT. ABC memiliki aktiva lancar sebesar Rp. 100 juta sedangkan hutang lancarnya sebesar Rp. 70 juta. Berapakah Rasio Lancar atau Current Ratio Perusahaan PT. ABC ini ?

 

Diketahui :

Aktiva Lancar = Rp. 100.000.000,-
Hutang Lancar = Rp. 70.000.000,-
Rasio Lancar = ?

Jawaban :

Rasio Lancar = Aktiva Lancar / Hutang Lancar
Rasio Lancar = Rp. 100.000.000,- / Rp. 70.000.000,-
Rasio Lancar = 1,43 kali

Jadi Rasio Lancar PT. ABC adalah 1,43 kali

 

2. Penilaian Terhadap Rasio Lancar

Semakin tinggi rasio lancarnya, semakin likuid perusahaannya. Hasil Current Ratio atau Rasio Lancar yang diterima pada umumnya adalah 2 kali. Rasio Lancar sebesar 2 kali ini dianggap sebagai posisi nyaman dalam keuangan bagi kebanyakan perusahaan. Namun pada dasarnya, Rasio Lancar yang dapat diterima ini bervariasi antara satu industri dengan industri lainnya. Bagi kebanyakan industri, Rasio Lancar sebesar 2 kali sudah dianggap dapat diterima atau “Acceptable“.

Nilai rendah pada Rasio Lancar (nilai yang kurang dari 1 kali) menunjukan bahwa perusahaan mungkin mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Namun Investor atau calon kreditur juga harus memperhatikan arus kas operasi perusahaan agar bisa lebih memahami tingkat likuiditas perusahaannya. Apabila Rasio Lancar Perusahaan rendah, para Investor atau calon kreditur dapat menilai kesehatan keuangan perusahaan yang bersangkutan dengan kondisi arus kas (cash flow) operasional pada perusahaan tersebut.

Jika rasio lancar terlalu tinggi (nilai yang lebih dari 2 kali), maka perusahaan tersebut mungkin tidak menggunakan aset lancar atau fasilitas pembiayaan jangka pendeknya secara efisien. Hal ini juga menunjukkan mungkin adanya masalah dalam pengelolaan modal kerja. Namun bagi Kreditur, Current Ratio yang tinggi lebih baik daripada current ratio yang rendah, karena dengan current ratio yang tinggi berarti perusahaan cenderung lebih dapat memenuhi kewajiban hutang yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan.

Subscribe Newsletter

Dapatkan info terbaru mengenai Finansial Teknologi. Kami tidak melakukan spam dan email anda tidak akan diberikan kepada pihak ketiga.

Copyright © 2019 Fintekmedia - All Rights Reserved.